Suasana taman yang ramai. Aku duduk menatap burung-burung
yang mematuki sisa remah-remah makanan yang tercecer di jalan. Siang ini
kakakku mengajakku untuk bertemu dengan kenalannya di suatu tempat. Pandanganku
sekarang tertuju pada punggung kakakku yang berada 12 meter dari tempatku
duduk. Dia bersama seorang pria. Pria itu menyodorkan minuman kaleng yang
langsung diteguk oleh kakakku.
Pria itu menggunakan setelan kemeja dan rompi, serta sebuah
topi. Mereka berbalik dan berjalan ke arahku. Tubuhku menegang. Mataku
terbelalak. Ketika menyadari siapa sebenarnya orang yang telah membuat janji
dengan kakakku, keringat dingin keluar dari setiap pori-pori tubuhku. Mungkin
wajahku sudah menampakan ekspresi ketakutan yang amat sangat. Orang itu adalah
orang yang sangat kuhindari selama ini. Pembunuh berdarah dingin yang mengincar
nyawaku.
Satou.
Tapi sepertinya sifatnya sangat berbeda dengan Satou yang
kukenal. Bagaimana bisa dia terlihat begitu akrab dengan kakakku? Kebetulan,
kah? Mungkinkah ini jebakan?
Sambil bergumam mengucapkan maafnya karena membuatku
menunggu, kakakku menyodorkan minuman kalengnya untukku. Satou melihat
kearahku, lalu kembali melanjutkan perbincangannya dengan kakakku. Syukurlah
sepertinya dia tidak mengenaliku. Ketenangan kembali menyelimutiku.
Selang beberapa waktu ketika Satou pergi, aku dan kakakku
bersiap untuk pulang. Baru saja mengeluarkan sepeda motornya dari parkiran,
kakakku mengeluh bahwa dirinya sedikit mengantuk dan mengatakan akan mencuci
wajahnya untuk membuatnya segar.
Ada apa ini? Apa ini ada hubungannya dengan minuman kaleng
yang tadi dia teguk? Kalau diingat lagi, kapan dia membeli minuman kaleng itu?
Sepertinya dia tidak membawanya dari rumah. Mungkinkah. Ini ulah orang itu.
Aku merasakan sebuah pandangan menusuk yang ditujukan
padaku. Aku menoleh, dan benar saja! Satou ada disitu. Ketakutan kembali
menyelimuti tubuhku. Aku berlari ke arah kerumunan untuk bersembunyi dari pria
itu. Jarak ini cukup jauh dari Satou. Ia tak terlihat di jangkauan pandanganku.
Aku memperlambat langkahku.
Satou (Source: tumblr)
Seperti terkena serangan listrik tiba-tiba, jantungku
berdebar kencang. Dia menemukanku! Disebelahnya berdiri seorang gadis kecil.
Mereka memengang senapan masing-masing. Menatapku dengan senyum yang sama.
Gawat! Jika mereka menembakku di tempat publik seperti ini maka akan
menimbulkan kehebohan besar. Kemungkinan terburuknya, banyak orang yang akan
mengetahui bahwa aku adalah Ajin. Dengan meyakinkan diriku sendiri, aku berlari
ke sebuah gedung kosong untuk bersembunyi. Gadis kecil itu berlari mengikutiku.
Aku terus mempercepat lajuku menyusuri lorong-lorong dalam
gedung itu, berusaha membuat jarak sejauh mungkin. Aku melihat ke sekeliling
tetapi tetap tidak menemukan Satou ataupun hantu hitamnya. Dimana orang tua itu
bersembunyi? Atau dia menyerahkan peran utama dalam permainan ini pada gadis
kecil itu?
Nyaris! Sebuah tembakan meleset menyerempet pipiku. Aku
terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang mengawasi arah tembakan dari
gadis itu. Tembakan demi tembakan terus diluncurkan. Ada yang salah dengan
situasi ini. Jarak diantara aku dan gadis kecil itu tidaklah jauh, tetapi seluruh
tembakan dari gadis kecil itu meleset. Apakah aku dengan ajaibnya berhasil
menghindari seluruh tembakan itu?
BAM!
Saat menyadari bahwa gadis kecil itu hanyalah gadis kecil
biasa yang digunakan Satou untuk mengecohku, sebuah peluru tepat menembus
punggungku. Aku ambruk. Satou berdiri di belakangku dengan senyum puasnya. Darah
segar mengalir dari rongga dadaku menggenangi lantai kotor di ruang kosong itu.
Nafasku sesak. Aku kalah. Hahaha. I’m gonna die. Terlintas skripsiku yang masih
perlu direvisi, tabulasiku yang belum kelar, dan bayangan wisuda yang
samar-samar menghilang seiring pandanganku yang mulai memudar. But I’m not
actually gonna die btw, because I’m an Ajin. Yang aku takutkan adalah berada
dimanakah aku saat sadar nanti. Markas Satou? Atau malah gedung penelitian
Ajin?
Kesadaranku mulai membaik ketika kurasakan zat IBM mulai
memperbaiki sel-sel mati dalam tubuhku. Mataku terbuka perlahan dan menyadari
aku sudah berada di dalam kamarku.
Njaaaaaaaaay! Mimpi jadi Ajin
terus dikejer-kejer sama Satou ternyata gak enak banget! Mimpi mati ketembak
ternyata gak enak banget! Ini mungkin teguran biar gak kebanyakan baca manga
sama nonton anime ya T.T padahal udah semingguan ini enggak baca manga Ajin kok
hmm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar