Jumat, 01 April 2016

I'm an Ajin!



Suasana taman yang ramai. Aku duduk menatap burung-burung yang mematuki sisa remah-remah makanan yang tercecer di jalan. Siang ini kakakku mengajakku untuk bertemu dengan kenalannya di suatu tempat. Pandanganku sekarang tertuju pada punggung kakakku yang berada 12 meter dari tempatku duduk. Dia bersama seorang pria. Pria itu menyodorkan minuman kaleng yang langsung diteguk oleh kakakku.
Pria itu menggunakan setelan kemeja dan rompi, serta sebuah topi. Mereka berbalik dan berjalan ke arahku. Tubuhku menegang. Mataku terbelalak. Ketika menyadari siapa sebenarnya orang yang telah membuat janji dengan kakakku, keringat dingin keluar dari setiap pori-pori tubuhku. Mungkin wajahku sudah menampakan ekspresi ketakutan yang amat sangat. Orang itu adalah orang yang sangat kuhindari selama ini. Pembunuh berdarah dingin yang mengincar nyawaku.
Satou.
Tapi sepertinya sifatnya sangat berbeda dengan Satou yang kukenal. Bagaimana bisa dia terlihat begitu akrab dengan kakakku? Kebetulan, kah? Mungkinkah ini jebakan?
Sambil bergumam mengucapkan maafnya karena membuatku menunggu, kakakku menyodorkan minuman kalengnya untukku. Satou melihat kearahku, lalu kembali melanjutkan perbincangannya dengan kakakku. Syukurlah sepertinya dia tidak mengenaliku. Ketenangan kembali menyelimutiku.

Selang beberapa waktu ketika Satou pergi, aku dan kakakku bersiap untuk pulang. Baru saja mengeluarkan sepeda motornya dari parkiran, kakakku mengeluh bahwa dirinya sedikit mengantuk dan mengatakan akan mencuci wajahnya untuk membuatnya segar.
Ada apa ini? Apa ini ada hubungannya dengan minuman kaleng yang tadi dia teguk? Kalau diingat lagi, kapan dia membeli minuman kaleng itu? Sepertinya dia tidak membawanya dari rumah. Mungkinkah. Ini ulah orang itu.
Aku merasakan sebuah pandangan menusuk yang ditujukan padaku. Aku menoleh, dan benar saja! Satou ada disitu. Ketakutan kembali menyelimuti tubuhku. Aku berlari ke arah kerumunan untuk bersembunyi dari pria itu. Jarak ini cukup jauh dari Satou. Ia tak terlihat di jangkauan pandanganku. Aku memperlambat langkahku.

Satou (Source: tumblr)

Seperti terkena serangan listrik tiba-tiba, jantungku berdebar kencang. Dia menemukanku! Disebelahnya berdiri seorang gadis kecil. Mereka memengang senapan masing-masing. Menatapku dengan senyum yang sama. Gawat! Jika mereka menembakku di tempat publik seperti ini maka akan menimbulkan kehebohan besar. Kemungkinan terburuknya, banyak orang yang akan mengetahui bahwa aku adalah Ajin. Dengan meyakinkan diriku sendiri, aku berlari ke sebuah gedung kosong untuk bersembunyi. Gadis kecil itu berlari mengikutiku.
Aku terus mempercepat lajuku menyusuri lorong-lorong dalam gedung itu, berusaha membuat jarak sejauh mungkin. Aku melihat ke sekeliling tetapi tetap tidak menemukan Satou ataupun hantu hitamnya. Dimana orang tua itu bersembunyi? Atau dia menyerahkan peran utama dalam permainan ini pada gadis kecil itu?
Nyaris! Sebuah tembakan meleset menyerempet pipiku. Aku terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang mengawasi arah tembakan dari gadis itu. Tembakan demi tembakan terus diluncurkan. Ada yang salah dengan situasi ini. Jarak diantara aku dan gadis kecil itu tidaklah jauh, tetapi seluruh tembakan dari gadis kecil itu meleset. Apakah aku dengan ajaibnya berhasil menghindari seluruh tembakan itu?
BAM!
Saat menyadari bahwa gadis kecil itu hanyalah gadis kecil biasa yang digunakan Satou untuk mengecohku, sebuah peluru tepat menembus punggungku. Aku ambruk. Satou berdiri di belakangku dengan senyum puasnya. Darah segar mengalir dari rongga dadaku menggenangi lantai kotor di ruang kosong itu. Nafasku sesak. Aku kalah. Hahaha. I’m gonna die. Terlintas skripsiku yang masih perlu direvisi, tabulasiku yang belum kelar, dan bayangan wisuda yang samar-samar menghilang seiring pandanganku yang mulai memudar. But I’m not actually gonna die btw, because I’m an Ajin. Yang aku takutkan adalah berada dimanakah aku saat sadar nanti. Markas Satou? Atau malah gedung penelitian Ajin?

Kesadaranku mulai membaik ketika kurasakan zat IBM mulai memperbaiki sel-sel mati dalam tubuhku. Mataku terbuka perlahan dan menyadari aku sudah berada di dalam kamarku.

Njaaaaaaaaay! Mimpi jadi Ajin terus dikejer-kejer sama Satou ternyata gak enak banget! Mimpi mati ketembak ternyata gak enak banget! Ini mungkin teguran biar gak kebanyakan baca manga sama nonton anime ya T.T padahal udah semingguan ini enggak baca manga Ajin kok hmm.

Sabtu, 05 September 2015

Lika-liku Guru, PNS, anak kuliahan, dari sudut pandang berbeda

Assalamualaikum sis bruh!

Pagi ini gua naik angkutan umum dari kampus hijau gua tercinta dengan tujuan Jl. Pramuka. Di dalem mobil itu ada dua penumpang lain, satunya mbak necis yang duduk di pojokan, dan satunya lagi adalah seorang ibu dengan seragam guru. Udah bisa dipastikan kalau beliau adalah seorang dokter. yaaelah hahahahaha seorang guru lah.
Beliau (si Ibu Guru) duduk di belakang sopir. Waktu gua masuk angkot (mungkin karena beliau liat gua pake arloji) beliau langsung nanya ke gua jam berapa saat itu. Kira-kira jam 08 lewat 10 menitan lah.

Gua perhatiin si ibu ini raut wajahnya antara khawatir (menurut gua sih kayanya khawatir telat ngajar, yaiyalah udah jam lapan geh) sama campur agak bete.

Ternyata si sopir lagi ngobrol sama si ibu. Gak bisa dibilang ngobrol juga sih, karena cuma si sopir yang ngomong, dan si ibu diem aja. Inti dari pembicaraan si sopir itu, agak menjelek-jelekkan profesi seorang guru, mungkin karena itu ibu tadi keliata agak galau bete. Kira-kira si sopir bilang gini:

Guru jaman sekarang bisanya cuma "menggunakan" anak muridnya sebagai "sumber uang". Nilai bisa di kong kalikong asal ada uang. Ya gini, guru jaman sekarang gak mempan dinasehatin sama sesama manusia, tunggu dikasih azab baru tau rasa."

Disini saya kadang merasa sedih. Seriusan deh gua gak enak liat ekspresi si ibu guru. Guru itu menurut gua adalah sosok bener-bener gua kagumi, gua jadi inget waktu pertama kali ditanyain apa cita-cita gua, yang terlintas adalah bisa menjadi seorang guru.

Si bapak tetep cerita panjang lebar tanpa peduli sama perasaan si ibu guru. Ceritanya sempat terjeda sebentar saat mbak yang duduk di pojokkan tadi tiba-tiba menghilang (turun dari angkot). Setelah itu cerita berlangsung lagi.

"Apalagi di sekolah negeri. Saya gak pernah menyekolahkan anak-anak saya di negeri. Saya juga gak mau anak-anak saya jadi PNS. Rasulullah kan pernah bilang, rezeki tiap orang tidak terbatas. Buat apa anak-anak saya jadi PNS dengan gaji yang dibatasi"

Jadi gua kasih senyum manis aja ke ibu guru tadi dengan ekspresi "jangan diambil hati ya, Bu"

Si ibu guru senyum balik. CIEEEEEEE

Selang beberapa saat, beliau turun di depan sebuah SMP negeri. Setelah angkotnya jalan lagi, si bapak bersungut "Guru apa yang berangkat jam segini."
Gua senyumin aja. Hehe

Si bapak melanjutkan omongan tentang guru tadi:
"sekolah jaman dulu lebih bagus daripada sekolah jaman sekarang. anak-anak sekolahan SMA sekarang mah kaya anak kuliahan. Berangkat gak niat, bisa maen aja."

NAH LOH SI BAPAK KENAPA JADI NGOMONGIN ANAK KULIAHAN INI KITA.

"anak kuliahan jaman sekarang, S1, nanti kerjanya di R*mayana. anak kuliahan cuma sedikit yang mau serius belajar. buat apa S1, kalo kaya sih bisa biayain kuliahnya. nah kalo yang bapaknya udah nyari uang susah-susah, anaknya cuma tau ngabisin uang bapaknya aja."

setelah itu gua turun dari angkot.
kenapa? kesel sama bapak sopir angkotnya? enggaaaaaaak. kenapa juga harus kesel. senyumin aja :) gua turun karena emang udah sampe halte tujuan.

Yah, sama seperti pemikiran beberapa golongan tua lainnya, opini bapak tadi gak salah kok. Cuma, kalo misalnya tadi gua masih punya banyak waktu untuk ngobrol dengan bapak itu, mungkin gua akan bilang gini.

"Guru menurut saya tetap profesi yang saya kagumi. Pahlawan tanpa tanda jasa. Dari hal yang simpel aja deh, kita tau baca tulis juga kan dari guru. Masalah beli nilai? emang gak bisa dipungkiri sih. Tapi untuk sekolah yang bener-bener menerapkan standar peraturan yang bagus, guru malah menolak loh adanya masalah begituan. Guru SMA saya dulu rumahnya beda kabupaten, rela berangkat subuh dari rumah cuma biar bisa on time pagi sampe sekolahan. Bisa dibilang, cuma segelintir loh yang mau ambil jalan pintas seperti mengambil keuntungan dari murid-muridnya. Dan, yah, mungkin karena yang segelintir itulah jadi rusak citra guru di masyarakat.
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

PNS? apa salahnya jadi PNS? justru mereka keren loh. Mereka mengabdi kepada negara. Banyak orang yang saya kenal itu PNS. Masalah rezeki yang dibatasi? Lalu kenapa? Kan rezeki tiap-tiap manusia sudah ada yang mengatur. Ya kalau anak-anak bapak nanti rezekinya ada di PNS ya gak apa pak, malah dengan begitu bapak bisa menanamkan opini bapak ke anak-anak bapak nanti yang kedepannya menjadi generasi-generasi PNS yang gak mengandalkan hasil dari "grativikasi".
Kalo rezeki yang dibatasi maaaaah, tergantung dari kitanya sendiri bisa mensyukurinya atau enggak. Semua akan dirasa cukup kok kalau kita bersyukur. Cukup untuk makan hari ini, cukup untuk kebutuhan sebulan, cukup untuk biaya sekolah, cukup untuk beli motor, cukup untuk naik haji. Semuanya bakalan cukup kalau kita bersyukur.

Jujur, sistem pendidikan sekarang menurut saya sudah lebih baik dibandingkan dengan sistem pendidikan jaman moyang kita dulu. Wajib belajar 12 tahun, sekolah gratis, beasiswa kurang mampu, dan beasiswa berprestasi, banyak lagi pokoknya kebijakan-kebijakan pemerintah yang dibuat agar kelak anak-anak penerus bangsa lebih berkualitas, berpendidikan.

S1 kerja di R*mayana? aamiin maksudnya jadi bagian CEOnya ya pak? aamiiiiiin hehehe

Kuliah itu gak semata-mata modal uang lho. Mungkin bapak belum dengar yang namanya beasiswa pemerintah, beasiswa dari institusional, bahkan beasiswa dari kampus itu sendiri. Kalau bapak bilang cuma sedikit anak kuliahan yang mau serius belajar, semoga saya ada di sebagian yang sedikit itu. S1 "buat apa"? ya karena saya gak mau ngabisin uang keluarga yang udah dicari susah-susah itulah makanya saya kuliah untuk mengangkat derajat keluarga saya. Bismillah doakan saja nanti bisa jadi CEO di R*mayana hehehe. Aamiiiin."



Mohon maaf kalau misalnya dari postingan ini ada yang tersinggung. Cuma ngeluarin unek-unek aja kok :D


Nah ya jadi gitu deh. Kitaorang nih yang bakal jadi generasi bangsa selanjutnya, jangan ngikutin golongan-golongan yang jelek (jelek sifat ya, bukan jelek tampang). Kita deh nanti yang bakal buktiin ke mereka yang berpemikiran sama kaya si bapak, kalau ternyata ada lho "manusia-manusia waras" di Indonesia tercinta kita ini. Indonesia pasti bisa berubah kok, dimulai dari perubahan kecil dari diri kita masing-masing. :)

Wassalamualaikum sis, bruh.
Dadaaaaaaah!



Lots of love, alpuspita




Ps: akhirnya proposal buat syarat pengajuan judul gua kelar juga. Yoshaaaaaaaaa! gak sabar pengen cepet cari kerja hahahahahaahahahahahahahaha.

Jumat, 04 September 2015

Konichiwaa!


I'm alpuspita:)
This is my second blog (after I deleted my old one because it was a bit alay). gonna post random things about my life, my college, umm my lovey-dovey story? hahahaha well the last one sound a bit cheesy tho. I'll post anything that I feel like I want to tell you all.

well, blog ini hanya sebagai versi tertulis dari keseharian penulis yang kadang agak konyol, ngakak, dan malu-maluin semoga aja bisa diambil hikmahnya :D

after all. selamat menikmati! (elah lu kira ini kondangan-_-)